Siang itu gw rada2 bingung mo ngapain, secara kuliah lagi kosong en kerjaan juga lagi cuti. Niatan yang tadinya mo belajar malah batal waku liat ada film Jagad X Code. Merasa tertarik nonton Ringgo, akhirnya gw nonton film ini di Youtube. Berikut resensinya.
Film ini mengisahkan tentang 3 orang pemuda pengangguran yang tinggal di Kali Code di Yogyakarta. Jagad, Gareng dan Bayu ingin mewujudkan keinginannya masing-masing. Jagad ingin membelikan mesin cuci untuk ibunya, seorang buruh cuci keliling. Bayu ingin mempunyai lapak jualan buku dan majalah, sementara Gareng ingin membuat salon kecil untuk adiknya.
Keinginannya tersebut terbentur masalah dana. Mereka bertiga tidak mempunyai pekerjaan yang tetap. Akan tetapi, sebuah pertemuan yang tidak sengaja dengan tokoh preman bernama Semsar ( Tio Pakusadewo) seakan akan akan merubah semuanya. Mereka dijanjikan akan mendapatkan uang sebanyak tiga puluh juta jika mampu menemukan sebuah benda yang bernama flashdisk. Tetapi karena kesenjangan tehnologi, mereka bertiga tidak tahu apa itu flashdisk. Pun ketika mereka mencoba bertanya pada orang di sekitar mereka. Tidak seorang pun yang mengerti flasdisk itu apa. Ketika flashdisk ditemukan, barulah mereka mengerti kenapa benda kecil itu dicari oleh banyak pihak.
Menurut gw, ini adalah salah satu contoh film yang sebenarnya punya kesempatan untuk jadi film yang disukai orang2. Jalan ceritanya menarik. Settingnya bagus. Angle2 kameranya juga enak untuk dilihat. Kesan klasik kota Jogjakarta bener2 terangkat di film ini. Bahkan waktu lihat Jalan Malioboro di zoom out, sempet ada satu momen buat gw yang bikin gw flashback ke kota ini. Suasana yang didapet disekeliling pemain juga bener2 natural, nggak kayak waktu nonton film Barbie pas adegan di Diskotik yang bener2 bikin pengen memaki. Secara sinematografi, gw bilag film ini bener2 bagus. (gw gak ngerti istilahnya apa, tapi maksut gw faktor2 yang ada selain faktor berperan) Cuman ada satu hal yang bener2 gw sayangkan di film ini. Semua faktor plus yang gw bilang tadi bagaikan hilang bles waktu lo liat peran yang ada di film ini. Gw gak ngerti, apakah segitu susahnya buat mereka para casting producer untuk mengerti, bahwa ini adalah film yang mengambil tempat di Jogja. Tokoh2 yang ada didalamnya adalah orang Jogja, dan tentunya logat yang harusnya terdengar disini adalah logat Jogja. JOGJA! J.O.G.J.A.!!
Ringgo berusaha dengan keras untuk menggunakan logat yang bener2 lain dari logat aslinya dia, dan hal itu membuahkan hasil yang menurut gw memberi efek yang sangat besar di film ini. Mario Irwiensyah entah gimana pas dengan peran yang didapet, diam2 bodoh (perannya, bukan orangnya.). Opi Bachtiar, agak2 terlalu lebay dengan senyumnya yang terlalu berlebihan. Tika Putri sendiri juga cocok untuk dapet peran anak yang pemberontak. Pemeran2 pembantu yang ada di film ini juga luar biasa. Tio Pakusadewo dan Ray Sahetapy actingnya bener2 pas. Djaduk Ferianto dan Butet Kartaredjasa tentunya nggak kewalahan untuk acting sebagai orang jogja, seperti halnya Didik Ninik, Marwoto en Yati Pesek. Yusie Amour juga nggak jelek. Desta, yaah, standar lah ya… Cuman 2 orang yang menurut gw ganggu banget penampilannya di film ini. Feby Febiola, dan Ully Artha…!!!
Febi Febiola menurut gw bener2 hasil casting yang kepepet. Artis yang actingnya masih level sinetron terlalu sayang untuk dipake di film layar lebar. Walaupun film ini film komedi, tapi tentunya cast director bisa milih mana yang udah layak untuk main sinetron, dan mana yang masih level Tersanjung! Dan Ully Artha. OH MY GOD!! Gw nggak tau ini salah si cast director, salah script writernya, atau mungkin salah si Ully sendiri, yang nggak paham bahwa mereka nggak bisa asal medok doang! Setiap kata yang terucap dari mulut Mbak Ully, gak ada yang pas dengan peran yang dia bawain, seorang ibu tua miskin BERLOGAT JAWA yang hidup susah di jogja. Entah gimana malah gw kayak ngeliat ibu2 glamour yang gak pake make up, yang kerjaannya cuman marahin suami karena nggak ngasih setoran uang belanja. Tentunya ini bukan salah Mbak Ully, tapi kalo menurut gw salahnya casting director yang gak bisa nentuin siapa yang cocok untuk dijadikan pelakon di sebuah film.
Overall, buat gw sebagai orang jawa, film ini bener2 menarik. Menghibur, tapi juga mendidik. Cuman ya itu, 1 peran aja yang bikin gw sepet.. huahahahha… semoga kalian menikmati ulasannya.. kritik saran diterima.. ;)
Rating gw: 3,5 dari 5